Laman

Jumat, 30 September 2011

Heboh Korupsi Berjamaah di Banggar DPR


Pasca pemanggilan KPK terhadap empat pimpinan Badan Anggaran atau Banggar DPR RI beberapa waktu lalu yang berujung konflik antar dua institusi itu, memperlihatkan beberapa fenomena menarik. Setidaknya, publik mulai diperlihatkan wajah sesungguhnya apa yang disebut dengan ‘Korupsi Berjamaah’.
Kalau selama ini kasus-kasus korupsi yang ditangani KPK hanya seperti riak-riak arus kecil di permukaan samudera korupsi di negeri ini, keberanian KPK membidik Banggar DPR mungkin tergolong maju. Apa yang dilakukan KPK merupakan kelanjutan dari dua kasus korupsi terakhir di dua kementerian: Kemenegpora dan Kemenakertrans.
Menariknya, di dua kementerian yang berbeda itu, ada satu pos negara yang selalu disebut para tersangka. Yaitu, Badan Anggaran.
Seperti yang dituturkan mantan bendahara umum Demokrat, Nazaruddin kepada media, sejumlah uang milyaran dititipkan melalui anggota Banggar dari Demokrat, Anggelina Sondakh untuk disampaikan kepada salah seorang pimpinan Banggar dari Demokrat, Mirwan Amir. Uang itu disebut Nazaruddin akan diserahkan kepada pimpinan dan anggota Banggar yang lain sebagai ‘uang terima kasih’ karena telah meloloskan anggaran tersebut.
Begitu pun di kasus Kemenakertrans, tersangka Dharnawati juga menyebut jatah untuk Banggar. Proyek Percepatan Pembangunan Infrastruktur Daerah atau PPID bernilai 500 milyar ini masih terus digodok KPK yang muaranya masih tanda tanya.
Dalam kasus Kemenakertrans ini, salah seorang anggota Banggar, Wa Ode Nurhayati bahkan menyebut adanya pelanggaran prosedur. Semestinya pembahasan angka 500 milyar itu dilangsungkan di Panitia Kerja atau Panja Pusat. Bukan di Panja Daerah.
Seperti diketahui, di Banggar ada tiga Panja. Yaitu, Panja Pendapatan, Pusat, dan Daerah. Tugas Panja Pendapatan adalah mengevaluasi semua lini pendapatan negara dalam fungsi pengawasan. Panja Pusat bertugas membahas semua postur anggaran kementerian dengan catatan telah dibahas dan disetujui komisi terkait. Dan Panja Daerah membahas postur anggaran yang dibutuhkan daerah dan propinsi dalam bingkai NKRI.
Dengan menjadikan PPID yang 500 milyar itu di Panja Daerah, Komisi yang menjadi mitra Kemenakertrans merasa tidak tahu sama sekali adanya aliran anggaran sebesar itu. Walaupun sebenarnya, anggota Banggar juga perwakilan dari Komisi utusan fraksi.
Peluang-peluang 'Memainkan' APBN
Dari beberapa kasus yang kerap terjadi, para pengamat menilai adanya sistematika kerja mafia anggaran yang mempunyai jaringan di dua lembaga negara: eksekutif dan legislatif. Biasanya, mereka memanfaatkan peluang di pembahasan APBN Perubahan. Di sinilah, mafia anggaran bergerak leluasa.
Beberapa modus operandi yang dilakukan tergolong beragam.
Pertama, bekerja sama dengan oknum eksekutif untuk mendapatkan ‘uang terima kasih’ seperti dalam kasus Wisma Atlet di Kemenegpora.

Kedua, menawarkan kepada daerah-daerah adanya peluang anggaran. Dari sini, lagi-lagi mereka mendapatkan ‘uang terima kasih’ seperti yang pernah disampaikan Wa Ode Nurhayati dengan adanya keanehan alokasi anggaran kepada sejumlah daerah yang sebelumnya tidak disepakati.

Ketiga, memainkan peluang-peluang di APBN-P seperti yang terjadi di Kemenakertrans yang ternyata terdapat anggaran setengah trilyun tanpa melalui pembahasan di Komisi terkait di DPR.
Sekjen Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia atau Formappi, Sebastian Salang menuturkan kepada media modus umum 'memainkan' anggaran di Banggar. Menurutnya terjadi apa yang disebut dengan 'cinta' segitiga antara pengusaha, pejabat pemerintah, dan anggota Banggar.
Dalam modus ini, menurut Sebastian, pengusaha memesan proyek kepada pejabat di kementerian, dan kementerian melobi orang-orang di Banggar. Di tiap titik segitiga ini harus dilalui dengan 'uang terima kasih'. Besarnya antara 10 hingga 20 persen.
Peneliti ICW, Ade Irawan menjelaskan seperti dimuat Media Indonesia: pembagian jatah dan pengutipan anggaran di Badan Anggaran (Banggar) DPR tidak pernah dilakukan saat rapat Banggar.
Biasanya setiap partai punya koordinator untuk melakukan transaksi gelap di luar rapat Banggar dengan broker atau kepala daerah. "Jadi tidak pernah fee itu dibicarakan di rapat Banggar. Selalu di luar rapat," jelas Ade.
Menurutnya, modus partai mengutip anggaran untuk daerah-daerah di Banggar sangat rapi. Biasanya, jelas Ade, setiap partai sudah diberi jatah besaran anggaran untuk daerah tertentu. Setelah diberi jatah tersebut, partai mulai beraksi melakukan lobi ke daerah-daerah yang telah dipercayakan pada mereka.
"Permainan di DPR melakukan korupsi dana APBN untuk daerah-daerah dengan memberikan alokasi anggaran ke daerah lebih dulu, baru kemudian dikompromikan dengan kepala daerah atau calo dari daerah. Bukan bagi-bagi lebih dulu baru bagikan ke daerah," paparnya.
Selain itu, kompromi dana APBN, bukan dilakukan di DPR atau di banggar, tetapi dilakukan secara personal oleh anggota Banggar di tempat lain sehingga sulit dilacak.
"DPR sudah cerdas untuk bagi-bagi anggaran APBN. Karena dialokasikan lebih dulu ke daerah baru kemudian dibagi-bagi, pada saat audit, ada dana daerah yang ditemukan tak tepat sasaran sampai dengan Rp 2 Triliun," jelasnya.
Mungkin, masih banyak lagi ‘kreativitas’ yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang disebut oknum di Badan Anggaran DPR. Intinya, bagaimana menguras uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
Korupsi Berjamaah
Jika disimak dari kasus konflik KPK dan Banggar DPR pasca pemanggilan pimpinan Banggar, begitu transparan terlihat adanya kekompakan pimpinan DPR menyerang balik KPK. Selain ancaman mogok oleh Banggar yang akan berimbas mandegnya pendanaan negara, DPR pun memanggil balik KPK.
DPR sepertinya ingin memperlihatkan kekuatannya kepada KPK bahwa mereka pun bisa ‘menciderai’ KPK. Bagi KPK, pemanggilan DPR ini begitu aneh jika dihubungkan dengan kasus dugaan korupsi di Banggar. Karena yang ditangani KPK terhadap orang-orang di Banggar murni kasus hukum, sementara pemanggilan DPR terhadap KPK menjadi kasus politik.
Pertanyaannya, sebegitu kompakkah perlawanan DPR terhadap KPK yang tampak mulai memberanikan diri memasuki lembaga Banggar yang selama ini memang penuh misteri. Ada apa di balik kekompakan ini? Karena baru kali ini dalam sejarah, semua wakil partai di pimpinan DPR berada dalam satu barisan dan satu suara. Kasus serangan balik kepada Wa Ode Nurhayati usai mengungkap ‘penjahat’ anggaran di Banggar pun memperlihatkan kekompakan ini.
Dan dari sini pula akhirnya terungkap, seperti yang dituturkan sejumlah pimpinan DPR, korupsi pun terjadi di lembaga pemerintah atau eksekutif. Mereka menilai bahwa KPK menendang bola panas kasus Nazaruddin dan Kemenakertrans ke lembaga DPR, bukan di kementerian terkait.
Wakil Partai di Banggar
Sudah hampir menjadi rahasia umum, seperti yang dituturkan para pengamat, kalau orang-orang yang duduk di pos Banggar DPR merupakan perpanjangan tangan dari ‘mesin ATM’ partai. Sistem setoran rutin menjadi hal lumrah terjadi di sini.
Beberapa oknum Banggar yang tergolong bagian dari mafia anggaran merupakan orang kepercayaan atau setidaknya punya hubungan khusus dengan bendahara partai. Klaim yang disampaikan Nazaruddin kepada media beberapa lalu dengan menyebut Mirwan Amir yang punya hubungan dekat dengannya menjadi salah satu contoh. Mirwan menjabat wakil bendahara di Demokrat.
Dari empat pimpinan Banggar yang ada, dua di antaranya merupakan bendahara resmi partai. Yaitu, Mirwan Amir dan Olly Dondokambey yang menjabat bendahara umum di PDIP.
Dari pola ini, hampir bisa dikatakan bahwa mafia anggaran di Banggar tidak melibatkan satu atau dua partai saja. Tapi merata di semua partai: baik yang nasionalis, setengah Islam, maupun yang Islam. Inilah mungkin yang disebut sebagai korupsi berjamaah untuk merampok uang rakyat di APBN. (mnh/Eramuslim.com/Jumat, 30/09/2011)

Minggu, 25 September 2011

PESAN KAUM MUSLIMIN AMBON ATAS LEDAKAN DI SOLO


M. Fachry
http://arrahmah.com/read/2011/09/25/15414-pesan-kaum-muslimin-ambon-atas-ledakan-di-solo.html


AMBON (Arrahmah.com) – Kaum Muslimin Ambon, korban kedzoliman nasrani pasca kerusuhan 11 September 2011, mengirim pesan menanggapi ledakan bom yang terjadi di GBIS Kepunton, Tegalharjo, Jebres, Solo, Ahad (25/09/2011), sekitar pukul 10.55. Mengapa kaum Muslimin diperlakukan diskriminatif?
Pasca ledakan bom di GBIS Kepunton, Tegalharjo, Jebres, Solo, Ahad (25/09/2011) sekitar pukul 10.55 WIB, aparat pemerintah terlihat langsung sibuk. Selain presiden SBY sendiri yang langsung memberi instruksi untuk mengungkap pelaku peledakan, Kapolri dan Kabareskim pun langsung mengunjungi TKP. Hal ini berbeda sekali dengan ketika kerusuhan Ambon meletus pada Ahad, 11 September 2011 lalu, dimana hingga kini belum juga diungkap siapa pemicu dan pelaku kerusuhan tersebut. Berikut sms keprihatinan dari kaum Muslimin Ambon yang dikirin ke redaksi Arrahmah.com
Pesan kaum Muslimin Ambon korban kedzoliman Nasrani
Ketika bom meledak di gereja kepunton Solo, semua pejabat dari presiden, menkopolhukan, kapolri, sampai ketua umum GP Ansor semuanya berkomentar pedas, mengutuk dan meminta segera diusut dan ditangkap pelakunya. Tapi kenapa ketika tanggal 11 September 2011, kaum Muslimin Ambon menjadi korban kedzoliman orang-orang Nasrani kita tidak mendengar komentar yang sama seperti hari ini ?
Padahal, ada 7 orang Muslimin Ambon yang tewas pada kejadian tersebut, ada 100 orang lebih kaum Muslimin yang terluka, ada 1 kampung Muslim yang habis terbakar rumahnya, ada 3000 pengungsi Muslim yang berada di tempat-tempat pengungsian sampai hari ini dengan keadaan yang sangat memprihatinkan. Bisakah presiden, menkopolhukam, kapolri, kapolda Maluku atau bahkan ketua umum GP Ansor mengungkap dan menangkap dengan segera pelaku yang telah membakar kampung Muslimin Waringin, Ambon, yang telah membunuh 7 orang Muslim yang telah mencederai 100 orang Muslim Ambon?
(M Fachry/arrahmah.com)

NEGERI KAGETAN


Oleh Agus Suryanto

Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya selalu terkaget-kaget lantas ikut-ikutan.
Tak peduli apakah hal tersebut membawa manfaat tapi yang penting nggak ketinggalan. Yang kadang rakyatnya hanya jadi objek penderitaan. Dimana orang lain yang mendulang pendapatan atau untuk suatu kepentingan. Lantas keluarlah sumpah serapah pada yang mengingatkan, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget saat ada pemerkosaan. Pemerkosaan diatas angkot yang tengah berjalan. Dimana pelakunya adalah supir cabutan bersama sang teman-teman.
Namun saat ada yang mengingatkan agar tak memakai rok mini di jalan. Serta merta mereka berdemo atas nama hak asasi manusia yang tidak ada hubungannya dengan Tuhan atau Setan. Tidak sadar atau pura-purakah bahwa dijalan itu banyak pejantan. Dimana rok mini itu memicu mata jelalatan, berefek jantung deg-degan dan selanjutnya otak berpikir mencari kesempatan dengan bantuan Setan. Finalnya adalah kejadian, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget saat ada boyband lokal ala Korea Selatan. Maka selanjutnya berjamurlah boyband dan girlband yang memukau bahkan anak dibawah lima tahunan.
Dimana mereka hafal dengan syair yang seharusnya untuk umur tiga puluhan. Bagaikan mangga yang diperam untuk dijual minggu depan. Tak peduli dengan efek buruk dimasa depan, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget saat banyak kejahatan diberbagai sisi pemerintahan. Dari kasus Mafia Pajak, Bank Century, Mafia Anggaran, yang ujungnya paling wacana dan pembentukan panja di dewan dengan segepok pembiayaan. Namun rakyat juga punya sifat mudah lupa ingatan.
Setelah ramai diberitakan, lalu sepi dan akhirnya sang oknum bisa jalan-jalan dan bahkan miliaran uang masih tersimpan. Maka pada saat ritual lima tahunan, para penjahat itupun dipilih kembali yang penting rakyat dapat kaos dan uang lima puluh ribuan, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget saat ada aksi bom-boman sampai kerusuhan. Segelintir orang beranggapan bahwa itu aksi Jihad yang diidamkan tanpa peduli bahwa itu sudah diskenariokan. Skenario untuk membonsai Islam yang rohmatan menjadi Islam yang berwajah Setan.
Sehingga setiap muslim yang sholeh harus ketakutan karena disudutkan sebagai teroris kearab-araban. Efeknya adalah setiap sendi dakwah saat ini mengalami kesulitan. Hasilnya adalah banyak muslim Indonesia saat ini tidak sholat 5 waktu apalagi jum'atan, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget saat Hari Raya tidak bersamaan. Disana-sini banyak ummat yang kebingungan. Bingung menentukan hari ini puasa atau lebaran, saat banyak elite ormas yang tidak memberikan pencerahan selain perdebatan dalil yang sejak tahun kuda tidak berkesudahan. Tak peduli apakah sebenarnya semuanya bisa disatukan, ah peduli Setan.
Sungguh negeri ini adalah negeri kagetan. Negeri yang rakyatnya terkaget-kaget dengan ini tulisan. Namun yakinlah saya hanya coba mengingatkan. Kalau ada yang tidak berkenan mohon dimaafkan.
Jika boleh meminta semoga hidayah Allah diturunkan. Tapi jikapun belum dikabulkan, saya tidak akan mengatakan, "ah peduli Setan."

MAHAR BAGI MUSLIMAH


Oleh Agus Triningsih

Bunga-bunga kertas itu terlihat cantik, berwarna-warni, mulai dari merah, hijau, biru, hingga ungu. Tersusun rapi dan manis dalam bingkai-bingkai yang elegan hingga menimbulkan kesan yang eksklusif. Sangat inspiratif dan kreatif. Tentu saja untuk memilikinya harus merogoh kantong yang tidak sedikit. Bunga yang baru saja saya lihat dari sebuah berita di layar kaca tersebut, bukan bunga biasa. Karena kertas-kertas penyusunnya memiliki nominal-nominal rupiah.
Ya, uang kertas mulai dari lembar ratusan rupiah hingga lembar ratusan ribu. Warna dan nilai nominal dari semua rangkaian bunga tersebut tergantung dari pemesannya. Karena rangkaian bunga tersebut merupakan salah satu desain ‘mahar’ uang untuk sang pengantin perempuan. Indah dan sangat menarik. Hanya saja saya kurang sreg, melihat mahar uang yang kesannya hanya dijadikan hiasan saja. Meskipun secara estetika itu jauh lebih baik daripada hanya sekedar dimasukkan ke dalam sebuah amplop.
Ngomong-ngomong tentang mahar, saya jadi teringat sesuatu hal. Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan SMS dari seorang kerabat.
"Ehm... Enak ya jadi perempuan? Mau nikah dapat mahar, dapat hantaran. Sesudah nikah, setiap bulannya juga dapat uang tanpa harus susah-susah kerja, dapat kasih sayang, dijagain, dilindungin. Pokoknya semuanya dapat. Sementara mas sebagai laki-laki, harus nyiapin mahar, nyiapin hantaran, harus kerja keras untuk Istri dan keluarganya, serta bertanggug jawab penuh atas semuanya."
Saya mencoba mencerna kata-katanya. Sebagai perempuan, saya mengakui hal itu, dan sungguh saya bersyukur dilahirkan sebagai seorang perempuan. Bukan hanya karena pernyataan sahabat saya tadi, tapi karena memang banyak keutamaan dan kemuliaan yang Islam berikan kepada kami. Tapi bukan berarti laki-laki lebih kalah hebat kan?
Saya lalu segera membalas SMS-nya.
"Enak juga kan jadi laki-laki? Bebas menentukkan pilihan, lebih punya hak atas Istrinya daripada orangtua Istrinya sendiri, punya hak untuk dipatuhi, dihormati, dan dilayani. Memiliki kekuasaan penuh atas keluarganya, dan diberikan hak untuk poligami. Gimana, benerkan?"
Satu SMS kembali saya terima.
"Yups. Bener banget! He.. He... Allah itu Mahaadil. Lalu, jika diberi kesempatan memilih mahar, mahar apa yang kamu inginkan?"
Wah, sebuah pertanyaan yang belum pernah terfikirkan sebelumnya. Lalu saya teringat sesuatu. Tentang mimpi-mimpi saya ke depan, tentang perpustakaan mini untuk anak-anak dan masyarakat sekitar saya. Saya tersenyum seketika dan segera membalas SMS tersebut.
"Mahar yang saya inginkan adalah buku. Yups, buku! Puluhan buku-buku tebal bertemakan anak, pendidikan, motivasi, dan romantisme kehidupan. Berikut rak-rak penyimpanannya. He.. He..."
Sebuah SMS balasan saya terima.
"Hua..!! Hau..!! Gedubrak!!! Ga’ semua laki-laki direktur penerbitan tau?! Kenapa ga’ sekalian minta gedung penerbitannya sekalian aja tuh! J ^-^...."
Tentu saja saya tidak terlalu serius menjawab tentang mahar yang saya inginkan tersebut, karena saya tak sama sekali ingin menentukan. Jika pun diberi kesempatan untuk itu, maka pilihan jenis ”mahar” akan saya serahkan sepenuhnya kepada calon Suami saya nantinya. Itu hak prerogratifnya, dan sungguh saya tak ingin mencampurinya. Teringat kembali dengan sebuah hadist bahwa, ”Nikah yang paling besar barokahnya itu adalah yang murah maharnya.” (HR. Ahmad)
Jadi, sungguh tak layak, jika kemudian mahar menjadi ”beban” yang memberatkan atau malah menjadi faktor penghambat pernikahan. Saya rasa setiap perempuan muslim faham betul akan hal tersebut. Hanya saja terkadang masalah-masalah ”mahar” justru ditimbulkan oleh faktor tuntutan keluarga calon perempuan atau faktor kebudayaan-kebudayaan setempat.
Yang saya ketahui adalah bahwa mahar merupakan pemberian yang penuh kerelaan dari Suami kepada Istrinya, apa pun bentuknya. Mahar adalah bentuk kasih sayang, penghormatan, sekaligus jaminan ekonomi atas Istri, yang diberikan oleh Suaminya. Jadi syaratnya adalah kerelaan darinya. Bener kan?
Tapi, sebagai calon pemberi mahar, seorang laki-laki harus memahami sepenuhnya bahwa nilai ekonomis mahar sebagai jaminan kehidupan bagi seorang Istri harus pula menjadi bahan pertimbangan, karena Islam amat menghargai dan melindungi kaum perempuan.
Dulu, kepada Khadijah RA, Rasulullah SAW memberikan mahar 20 ekor unta merah, di lain riwayat 70 ekor, bahkan pada riwayat lain 100 ekor unta merah yang merupakan alat transportasi paling mewah pada masa itu.
Begitu pun dengan para sahabat yang memberikan mahar pada para Istri mereka dengan jumlah yang beragam, seperti Abdurahman bin Auf yang menikahi wanita Anshar dengan mahar emas sebesar biji kurma, Tsabit bin Qais memberikan mahar sebidang kebun. Mahar Ali bin Abi Thalib RA kepada Fatimah RA adalah sebuah baju besi huthamiyah yang saat itu bernilai amat tinggi. Tapi ada juga seorang laki-laki yang karena kemiskinannya memberikan mahar berupa pengajaran beberapa ayat Al-Qur'an kepada Istrinya, sesuai yang dikuasainya dengan baik. (HR. Bukhari Muslim)
”Berikanlah mas kawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari mas kawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (QS. An-Nisa [4] : 4)
asyifa85@yahoo.com